Minyak Goreng Murah Bakal Makin Banyak Pilihan, Begini Penjelasannya

11 hours ago 7

Pekerja menunjukkan minyak goreng MinyaKita sebelum dimasukkan kedalam kardus di salah satu mitra pengemasan MinyaKita di Cakung, Jakarta , Rabu (12/5/2025). Kementerian Perdagangan bersama Satgas Pangan Polri berkomitmen terus menjalankan pengawasan secara intensif terhadap distribusi barang kebutuhan pokok (bapok), salah satunya Minyakita dengan tujuan untuk menghindari terjadinya kerugian masyarakat. Selain itu Kementerian Perdagangan bersama Satgas Pangan Polri juga akan memperketat pengawasan MinyaKita yang beredar di pasar tradisional untuk menjaga ketersediaan pasokan periode Ramadhan dan Lebaran 2025.

REPUBLIKA.CO.ID, Jakarta – Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan belum ada rencana menaikkan harga eceran tertinggi (HET) Minyakita di tengah tren kenaikan harga minyak kelapa sawit mentah (CPO) dunia.

"Sebenarnya HET Minyakita sudah lama tidak berubah. Sementara harga CPO terus naik, tetapi kami belum ada rencana menaikkan HET-nya," kata Mendag Budi di Jakarta, Jumat.

Ia menyampaikan bahwa saat ini pemerintah fokus pada distribusi Minyakita dengan harga yang relatif stabil, bahkan turun tipis menjadi Rp16.200 per liter dari sebelumnya Rp16.800 per liter.

Penguatan Peran BUMN

Distribusi tersebut didorong melalui penguatan peran Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di sektor pangan.Pemerintah melalui Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 43 Tahun 2025 mewajibkan seluruh produsen minyak goreng berbasis kewajiban pasar domestik (DMO) untuk mendistribusikan Minyakita minimal 35 persen kepada Bulog atau IDFOOD guna menjaga kepastian pasokan.

Selanjutnya, Bulog/IDFOOD mendistribusikan Minyakita langsung kepada pengecer tanpa melalui perantara distributor lainnya dalam rangka efisiensi rantai pasok dan pencapaian HET di tingkat konsumen.

"Saat ini belum mencapai 35 persen, masih di bawah 30 persen karena masih dalam proses. Ini proses business-to-business (B2B) antara BUMN Pangan dengan para produsen. Produsen pun sangat mendukung program ini," ujar Mendag.

Dorong Produksi Second Brand

Selain itu, Budi juga meminta produsen minyak goreng memperbanyak produksi second brand sebagai pendamping Minyakita untuk menjaga ketersediaan dan stabilitas harga, terutama menjelang Ramadan dan Idul Fitri.

"Minyak second brand ini sudah dipasarkan di pasar rakyat. Harapan kami, masyarakat punya banyak pilihan karena Minyakita sifatnya terbatas akibat DMO. Kami ingin ada pilihan lain yang harganya terjangkau," katanya.

Mendag menegaskan pemerintah tidak ingin masyarakat hanya bergantung pada Minyakita karena produk tersebut merupakan instrumen intervensi pasar berbasis DMO yang jumlahnya terbatas dan bergantung pada kinerja ekspor.

"Minyakita sejak awal memang dirancang hanya untuk intervensi pasar," pungkas Budi.

sumber : Antara

Read Entire Article