Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia mengaku gugup saat diminta menyampaikan pidato dalam Training of Trainers Sosialisasi 4 Pilar MPR pada Jumat (6/2) di Kantor DPP Golkar, Jakarta Barat.
Sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), ia biasanya berbicara soal ekonomi, sementara pidato Empat Pilar justru membuatnya pusing.
“Saya jujur aja gugup. Karena biasa pidato ekonomi, Kakak. Tapi pidato Empat Pilar ini pusing saya,” kata dia di hadapan kader Golkar.
Bahlil menyebut forum itu ia anggap sebagai ajang fit and proper test dari Fraksi Golkar MPR kepada dirinya sebagai Ketua Umum Partai Golkar.
“Tapi ya, siapa suruh menjadi ketua umum partai. Mungkin kali ini saya anggap forum ini adalah forum fit and proper test dari anggota Fraksi Golkar MPR kepada Ketua Umum Partai Golkar, kira-kira paham enggak Empat Pilar kira-kira begitu,” ujarnya disambut tawa hadirin.
Bahlil mengaku teringat kembali pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) dan Penataran P4 yang pernah ia ikuti saat sekolah dan kuliah. Ia menyebut tidak pernah menjadi anggota DPR sehingga harus berpikir keras menentukan materi pidatonya.
“Saya akhirnya duduk berpikir itu. Apa yang saya harus bicara? Karena saya belum pernah jadi anggota DPR. Tapi supaya agak gagah juga ketua umum, kan kira-kira begitu,” tutur dia.
Dalam pidatonya, Bahlil kemudian menekankan pentingnya Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara yang lahir dari proses konsensus para pendiri bangsa. Ia menyebut Pancasila merupakan intisari Undang-Undang Dasar 1945 sekaligus sumber dari segala sumber hukum di Indonesia.
Ia juga menyinggung Undang-Undang Dasar 1945 sebagai landasan konstitusional yang mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara, termasuk prinsip keadilan sosial dan pengelolaan sumber daya alam untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Selain itu, Bahlil menegaskan makna Bhinneka Tunggal Ika sebagai fondasi persatuan bangsa di tengah keberagaman suku, agama, dan budaya. Menurutnya, tanpa semangat persatuan, Indonesia tidak mungkin berdiri sebagai satu negara.
Adapun Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), kata Bahlil, merupakan bentuk final yang harus dijaga bersama. Ia mengingatkan bahwa persatuan wilayah dan keadilan antar-daerah menjadi kunci agar NKRI tetap kokoh.
“Jadi dalam pandangan saya, Pancasila, UUD 45, Kebhinekaan, dan NKRI ini merupakan aset terbesar dan kita harus jaga itu. Tetapi itu hanya bisa diwujudkan dengan keadilan,” tegasnya.

11 hours ago
7















English (US) ·