Bahasa Isyarat Visualisasikan Gagasan Puitis dan Kompleks

6 hours ago 3
Ilustrasi dua murid SLB dari ketunaan wicara (B[ahasa]) tengah berbincang dengan bahasa isyarat saat jam istirahat. (Sumber: Gemini 3 AI)

Satu kehormatan bagi saya, menjadi orang yang mempunyai ketertarikan melihat anak-anak SMALB atau SMPLB dari ketunaan B(ahasa) manakala mereka terlibat dalam suatu dialog. Terkadang tampak di mata saya, mereka memainkan gerakan demi gerakan tangan, lengkap dengan mimik wajah yang sesuai dengan ekspresi pikiran atau perasaannya. Ada yang menyertai dengan suara seperti “aaa … aaa …”. Ada pula yang diam tanpa sertaan suara, tapi gerak-gerik tangannya begitu fasih “berbicara”.

Sementara itu, dari unggahan FaceBook yang menampilkan Yulia Dewi, wanita muda Tuli asal Bali yang telah bersuami dan memiliki anak, selain berupa gerakan tangan, juga ada suara yang hampir sebaguan besar membentuk kata-kata yang relatif jelas. Akan tetapi, ada pula yang sebagian kecil lainnya hanya menyerupai bunyi yang sulit teridentifikasi sebagai kata yang berada pada jangkauan pengenalan kita. Bagi saya, suara yang muncul menyertai gerak-gerik visualisasi bahasa isyarat wanita yang Tuli sejak lahir itu, mendekati sajian teks yang mentranskripsi secara verbatim ucapannya.

Dan, satu lagi, ada seorang siswa yang sering bareng naik BRT Trans Semarang Koridor V atau kebetulan bareng di halte. Kalau melihat seragamnya, dia anak SMPLB dari ketunaan B. Berkali-kali, pandangan saya bertemu dengan kejadian, saat dia menerima panggilan video di handphone, tangannya begitu “fasih” mengucapkan bahasa isyarat. Tidak terdengar ada suara seperti Yulia Dewi. Dia lebih banyak terangkul dalam kebisuan, namun dengan ekspresi wajah yang begitu hidup. Menyiratkan sorot mata penuh kecerdasan.

Anak itu lebih sering menggerak-gerakkan tangannya menghadap layar handphone dalam rengkuh kediaman. Tanpa suara. Namun, ekspresi wajahnya sangat menunjukkan bahwa dirinya sedang berbicara dengan seseorang. Mungkin dengan ayah atau ibunya. Bisa juga dengan teman sebayanya, kalau melihat dia tampak begitu asyik, hangat, dan antusias menjalin konversasi dengan bahasa isyarat.

Pengguna Bahasa Isyarat

Ilustrasi dari Gemini 3 AI.

Mereka yang memiliki keterbatasan dalam pendengaran, ada yang tergolong pada tahapan tunarungu atau tuli total (totally deaf). Mereka benar-benar mengalami kehilangan pendengaran. Sama sekali tidak mampu mendengar, bahkan untuk suara yang sangat keras sekalipun. Istilah medisnya Anakusis.

Sebagai catatan tambahan, untuk selanjutnya saya menggunakan istilah Tuli untuk menyulihi sebutan tunarungu. Saya baru mengerti, jika banyak anggota komunitas penyandang disabilitas pendengaran di Tanah Air, lebih menyukai penyebutan Tuli (dengan “T” kapital). Mereka menganggapnya lebih menghargai dan sopan.

Sementara itu, sebutan “tunarungu” yang sesungguhnya merupakan bentuk eufemisme (misalnya tentu lebih santun daripada memakai kata “budek”) dalam pandangan umum, bagi mereka justru merendahkan. Karena secara maknawi mengimplikasikan pada “kerusakan” indra pendengaran.

Penyebutan Tuli lebih mereka sukai, karena bukan sekadar menunjukkan kondisi fisik, melainkan juga sekaligus sebagai penanda identitas kelompok masyarakat yang mempunyai bahasa sendiri. Bahasa isyarat. Oleh karena itu untuk uraian selanjutnya, saya akan berupaya untuk istikamah menggunakan sebutan Tuli.

Karena mereka yang Tuli total tidak mampu mendengarkan suara, akibatnya mereka tidak dapat mengidentifikasi dan menirukan kembali (belajar) suara dari kata-kata yang membentuk bahasa sebagai kode verbal. Untuk berkomunikasi mereka sangat membutuhkan bahasa isyarat atau mengandalkan kemampuan membaca gerak bibir. Mereka yang tuli total otomatis tunawicara.

Sementara itu, ada pula mereka yang termasuk tunawicara murni. Kemampuan pendengaran mereka normal. Ketidakmampuan berbicara itu berbiang penyebab dari faktor gangguan pada otot mulut. Bisa pula lantaran perkembangan otak yang kurang optimal. Atau, masalah artikulasi yang terganggu.

Problem artikulasi sebagai penyebab mereka menjadi tunawicara murni lantaran adanya gangguan yang menimpa pada organ pengucapan, yaitu lidah, bibir, langit-langit. Atau, bisa pula akibat dari sistem motorik otak mereka tidak mampu memproduksi bunyi bahasa dengan jelas.

Para tunawicara murni ini, sebagaimana para tunarungu total, juga begitu memerlukan bahasa isyarat untuk berkomunikasi. Walaupun fungsi indra pendengarannya normal, bahasa isyarat menolong mereka untuk mengekspresikan diri dengan cara yang relatif bisa bersambut dengan respons pemahaman. Dengan demikian bahasa isyarat dapat menjadi semacam jembatan sehingga meminimalisasi hambatan komunikasi dan memudahkan interaksi sosial.

Sementara itu, bagi para penyandang Tuli ringan (sulit mendengar di tempat yang bising atau ramai) dan kategori sedang (sulit mendengarkan percakapan tanpa bantuan alat bantu dengar), bisa memanfaatkan alat yang menurut istilah bahasa Inggrisnya, antara lain dalam Cambridge Dictionary, mendapat naungan istilah hearing aid. Alat bantu dengar dalam bahasa Indonesianya. Kendati begitu, pada umumnya mereka juga masih menggunakan bahasa isyarat.

Alat bantu dengar itu dapat memperkuat suara. Dengan demikian, mereka memiliki kemampuan mendengar dan mengenal kata-kata dalam bahasa verbal yang lebih baik. Hearing aid dapat mempertegas sisa kemampuan mendengarkan dari para tunarungu kategori ringan dan sedang itu.

Hal ini dapat memfasilitasi proses terapi wicara. Pemakaian alat bantu dengar pada usia dini sangat memengaruhi keefektifan proses pemerole...

Read Entire Article